Tuhan Tidak Tidur

Itu alasan paling mudah untuk menghibur diri.

Lo jomblo, hibur saja dengan kalimat di atas, “Tuhan tidak tidur…”

Lo lagi terpuruk, hibur dengan kalimat di atas. Tuhan tidak tidur.

Lo kecopetan, kecurian, Tuhan tidak tidur.

Lo lagi cekak gak gablek duit, Tuhan tidak tidur…

Junjungan lo kalah di Pilpres, eh, Tuhan tidak tidur… ya iyalah…

Lo teraniaya macam sinetron Indonesia, Tuhan tidak tidur… dan masih banyak lagi permasalahan di dunia ini yang bisa dijawab dengan kalimat menghibur di atas. Termasuk insiden di Tolikara, Papua. “Tuhan tidak tidur…”

Dalam ilmu komunikasi yang saya tau, “don’t state the obvious”. Yang sudah jelas gak perlu dinyatakan lagi. “Yang pasti-pasti gak usah dibahas deh…” begitu kata teman-teman saya.

Ya tentu saja “Tuhan tidak tidur” menjadi sebuah kejelasan yang TIDAK perlu dikasih tau lagi ke orang-orang (beragama).

Dan hal paling mudah untuk menyudahi sebuah diskusi argumentatif (atau perdebatan), ya katakan saja kalimat di atas, “Tuhan tidak tidur…”

Entah maksudnya apa, apakah itu sebuah statement, atau berkilah tak memiliki alasan argumentasi lainnya. Kalau sebuah statement, gak usah dikasih tau, anak esde juga tau… kalau itu untuk menjawab sebuah permasalahan, ya sudah tiba-tiba ‘case closed.’

Apa pun kasusnya, kalau hanya dengan jawaban “Tuhan tidak tidur,” ya sudah pasrah saja. Gak perlu misuh-misuh grendelan kan…

(ditulis 22 Juli 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s