Bibsy Agus Salim Tutup Usia

(Foto: Winda Zuchra)

Tutur katanya begitu runut dan tertata, khas orang sekolahan. Kadang dia berbicara dalam bahasa Belanda dan Inggris yang fasih. Wawasannya luas. Bagi yang baru mengenalnya tentu tak akan mengira Bibsy Soenharjo tak pernah mengenyam pendidikan bangku sekolah. Bibsy, yang bernama asli Siti Asia, adalah “lulusan” homeschooling sang Ayah, Haji Agus Salim.

Bibsy kecil tak pernah menimba ilmu di sekolah formal. Ibunya, Zainatun Nahar, mengajar dia membaca, menulis, dan berhitung. Ayahnya mengajarkan segala hal, “Tidak ada kelas dan jam pelajaran yang mengikat,” pengakuan Bibsy.

Bibsy ingat ucapan ayahnya -yang dituturkan sang ibu kepadanya. Nanti kalau kita punya anak, kita tidak akan sekolahkan mereka. Dan ibu menerima itu.

Momahad Roem, tokoh Masyumi yang dekat dengan keluarga Salim, menyaksikan langsung hasil pendidikan itu. Suatu hari dia datang ke rumah Salim. Saat itu Ahmad Sjauket Salim, anak Salim yang baru berusia 4 tahun, keluar dari kamar tidurnya dan meminta ayahnya menggaruk punggungnya. “Bocah 4 tahun itu sudah bisa berbicara bahasa Belanda dengan baik,” kata Roem, dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim.

Setelah anak-anaknya pandai bahasa Belanda, Salim dan istrinya mengajarkan dasar-dasar membaca, menulis, dan berhitung. Menurut Bibsy, mereka belajar tak duduk dalam kelas. Tak ada jam pelajaran yang mengikat. Mereka bisa belajar di mana saja di rumah, bisa di beranda atau ruang tamu. “Pelajaran membaca dan berhitung disampaikan dengan santai, seolah-olah kami sedang bermain,” cerita Bibsy.

Menurut Bibsy, ayah dan ibunya mengajar dengan memberi tahu sesuatu, bercerita, dan menyanyikan lagu yang lirik-liriknya sajak-sajak pujangga dunia. Pelajaran sejarah misalnya disampaikan seperti tengah membacakan buku cerita. Dengan begitu, Bibsy tertarik mencari ilmu sendiri lewat berbagai cara -termasuk lewat buku-buku yang disediakan di rumah. “Di rumah selalu ada buku, karena kakak-kakak saya adalah anggota perpustakaan.”

Agus Salim menerapkan sikap terbuka, saat mengajar, ia tak keberatan dibantah. Dalam menerangkan persoalan, ia tak akan berhenti sebelum anak-anaknya paham.

Dengan model pendidikan itu, anak-anak Agus Salim meraih sukses dalam hidup mereka. Putri sulung Salim, Theodora Atia, aktif dalam gerakan Wanita Islam dan organisasi Lembaga Indonesia Amerika. Anak kedua, Jusuf Taufik Salim, pernah bekerja pada Inter Vista, sebuah biro iklan, dan kemudian menjadi penerjemah. Islam Basari Salim, anak keenam, menjadi tentara dengan pangkat kolonel dan pernah menjabat atase militer Indonesia di China.

Bibsy sempat bekerja di sebuah perusahaan asuransi sebelum menikah dengan Soenharjo, mantan konsul di Jepang. Bibsy juga pernah bekerja di perusahaan asing – dan dikenal sebagai penyair. Pada 1998, dia meluncurkan anotologi Hearts & Soul, kumpulan puisi yang ditulisnya sepanjang 1962-1998.

Dalam antologi tersebut, dari 50 sajak, tercatat 11 sajak ditulis dalam bahasa Indonesia, 2 dalam bahasa Perancis, dan sisanya dalam bahasa Inggris.

Bibsy memang seorang poliglot (mampu menguasai banyak bahasa) seperti sang Ayah.

Pukul 16:20, Kamis, 8 Juni 2017, di RS Harapan Kita, Bibsy yang memang telah beberapa tahun beraktivitas di kursi roda, menghembuskan nafas terakhirnya.

Selamat jalan putri sang poliglot, yang juga seorang poliglot.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s