Ada 9,2% yang Mau NKRI Jadi Negara Islam

Saiful Mujani Research & Consulting merilis hasil survei mengenai ancaman terhadap keutuhan NKRI.

Screen Shot 2017-06-04 at 7.33.13 PM

Dari hasil survei ini, 92,9% responden menyatakan ISIS tidak diperbolehkan hidup di Indonesia.

Masih berkaitan dengan ancaman terhadap NKRI dari bahaya organisasi yang menginginkan tegaknya negara agama/Islam, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), 78,4% responden menyetujui HTI dibubarkan.

Saat ditanyakan, “Bersediakah menjadi relawan penjaga NKRI?” Sebanyak 84,5% menyatakan bersedia dan sangat bersedia.

Jumlah dukungan pada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah, 79,3% mendukung NKRI berdasarkan Pancasila & UUD ’45.

Ini berarti ada sekitar 20%-an yang tidak mendukung dasar negara Pancasila dan UUD ’45

Ketika digali lebih jauh, ditemukan bahwa 9,2% ingin menjadi negara Islam atau khilafah yang bersandar pada al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama tertentu.

Dari hasil survei di atas, nampak jelas sekali dewasa ini ada kegagal-pahaman segelintir orang yang hidup di Indonesia bagaimana menjadi warga negara dan bagaimana menjadi umat beragama.

Kegagal-pahaman itulah yang memunculkan 10%-20% penghianat bangsa di sekitar kita. Ini jumlah yang cukup besar untuk sangat di-waspadai.

Para penghianat ini berkedok mengatasnamakan agama padahal tujuannya tak lain adalah merebut kekuasaan dengan menggunakan cara-cara tak lain dengan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Bibit-bibit ini “gila”nya sudah ditularkan sejak anak-anak, sejak dini. Dengan mengajarkan anak-anak faham kebencian terhadap golongan lain di luar kelompoknya. Tentu saja dengan dalih agama di dalamnya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan fakta di bawah ini:

18920389_10213555498709644_6186457048068687730_n (1)

Mulai bermunculan secara kasuistik anak-anak yang beragama bukan muslim “di-kafir-kafirkan”, tidak ditemani atau didiskriminasi oleh teman-temannya. Padahal mereka masih anak-anak.

Kita bisa mulai mencegah berkembangnya bibit dan wabah radikalisme ini dengan berani melaporkan ke aparat yang berwenang jika melihat, mengalami, diskriminasi, tekanan, atau gejala-gejala orang yang menyebarkan kebencian, meskipun lewat rumah ibadah. Rekam, dan laporkan, sebarkan bila perlu, agar segera ditangani pihak yang berwajib.

Begitu Undang-undang Terorisme diketok palu di DPR, kita harap bisa mengikis 10-20% itu. Hopefully.

(ES)

Hasil riset SMRC:

https://drive.google.com/file/d/0B7ldGGHEr1pqaHNOOWtVcDlqLW8/view

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s