Labelling Theory terhadap Ahok

Istilah “penista agama” yg disematkan kepada Ahok hanyalah penerapan dari teori “Labelling”.

Bagi mereka yang pernah belajar kriminologi atau sosiologi pasti tau teori labelling ini.

Dalam teori Labelling, seseorang melakukan penyimpangan (kriminalitas, kenakalan, dsb.) karena diberikan cap oleh masyarakat. Karena diberikan label ‘jahat, nakal, dsb.’ oleh lingkungannya. Padahal sebenarnya si ‘penjahat’ itu tidak jahat.

Contoh kecil, dahulu sering kita melihat ortu yang menyematkan kata “anak nakal” kepada anaknya sendiri. Lalu si anak pun karena sudah diberikan label ‘anak nakal’ ya menjadi nakal di mana pun dan kapan pun.

Melalui teori labelling, seseorang bisa menjadi ‘penjahat’ kalau lingkungan/masyarakat/publik terus menerus memberikan stigma negatif terhadap seseorang.

Nah, dalam konteks pemberian label “penista agama” kepada Ahok, stigma tersebut betul-betul memborbardir semua media massa dan medsos, gila-gilaan. Di-fabrikasi secara massif. Terus menerus. Sehingga label tersebut dipaksakan juga sampai jalur hukum.

Akhirnya Ahok dinyatakan melakukan penyimpangan karena diberikan stigma ‘penista agama’ secara bertubi-tubi dan berbulan-bulan bahkan lewat demonstrasi-demonstrasi kelompok primordial.

Kesimpulannya, istilah “penista agama” sesungguhnya TIDAK ada. Hanya sebuah label. Pemberian cap. Stigma kepada seseorang. Dipaksakan ada.

Tapi kalau habib mesum, ada.

Advertisements

One thought on “Labelling Theory terhadap Ahok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s