Basuki-Djarot Boleh Kalah, ‘We Shall Not Be Moved’

Screen Shot 2017-04-19 at 5.43.21 PM

“Seandainya bukan Basuki-Djarot, tapi Udin dan Ujang melawan kelompok rasis dan bigot agama, saya akan berdiri bersama Udin dan Ujang.”

Begitu suatu kali saya posting status di akun FB saya. Karena kelompok rasis dan bigot agama tidak ada tempat buat saya. Saya melawan kelompok-kelompok yang mengusung primordialisme dan chauvinisme.

Saya berdiri pada posisi gagasan ideal yang saya usung, pluralisme, bukan sekadar pada satu dua tokoh politik tertentu. Bukan hanya 1-2 orang yang saya perjuangkan dalam politik, tapi pada gagasan ideal dan program kerja nyata.

Hasil perhitungan cepat Pilkada DKI Jakarta menempatkan pasangan Anies-Sandi sebagai unggulan saat ini. Banyak sekali pendukung paslon no 2 merasa kecewa, sedih, bahkan menangis. Tapi hey…, saya tetap bangga berada di posisi mana saat ini. Saya tetap bisa membusungkan dada bahwa saya telah berjuang dan akan terus berjuang mengedepankan ide-ide tentang kemajemukan bangsa Indonesia ini. Itulah aset bangsa yang sesungguhnya yang harus kita jaga.

Saya bangga berada di posisi lawan politik dari PKS, FPI, HTI dan kelompok sejenis yang meperjuangkan hukum syariah dan khilafah di NKRI ini. Saya bangga memperjuangkan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai falsafah dasar negara ini. Karena sejarah telah mencatat bahwa mereka yang alergi terhadap Pancasila dan ingin menegakkan hukum agama sebagai dasar negara merupakan penghianat bangsa. Dan saya bukan salah satu dari para penghianat bangsa itu.

Fakta bahwa lebih banyak persentase yang memilih Anies-Sandi di Jakarta bukan dilihat hanya perjuangan mereka selama 1-2 tahun saja. Tapi ada 10 tahun ke belakang yang telah dibangun oleh PKS melalui ‘perebutan’ masjid-masjid dan indoktrinasi politik berbungkus agama yang telah dilakukan mereka.

New Born Muslim,” demikian saya sebut, merupakan sebuah fenomena munculnya kelas menengah terdidik yang mulai menjadi lebih relijius. Kalangan inilah yang menjadi target paparan dari indoktrinasi PKS. Muda, terdidik, relatif mapan dari segi keuangan, dan baru mulai mendalami agama. Mereka baru memakai hijab, mereka mulai menumbuhkan janggut, dan lain sebagainya sebagai simbol-simbol bahwa mereka saat ini telah mendapat ‘hidayah.’

Panutan-panutan mereka pun bukan kyai-kyai tradisional dari NU, tapi mereka lebih gemar dengan ustadz-ustadz yang tidak berasal dari latar belakang pesantren NU. Hampir persis penampilannya dengan mereka, ustadz-ustadz ini baru ‘laris’ menjadi ustadz, mulai mapan secara finansial karena banyak job, dan bahasa mereka bisa diterima oleh kelompok ‘new born muslim‘ ini.

Fakta sosial di atas ditambah latar belakang bahwa Islam di Indonesia masih dijalani hanya menggunakan rasa (sense), bukan nalar dan akal sehat.

Para pemeluk agama di Indonesia ini memang lebih banyak yang beragama karena keturunan, doktrin, dan ‘rasa’ itu. Bukan lewat akal yang telah dikaruniakan Tuhan kepada manusia sebagai makhluk sempurna. Itulah mengapa mereka yang beragama dengan ‘rasa’ akan mudah kesenggol, tersinggung karena perasaannya.

Kedua faktor ini bertemu saat ada momentumnya. Momentum ini tidak disia-siakan oleh kelompok kepentingan dan parpol untuk merebut kekuasaan politik.

Fakta lainnya, Wahid Foundation merilis hasil survei bahwa dari total 1.255 responden, sebanyak 59 persen memiliki rasa benci terhadap non muslim, etnis Tionghoa, dan lain-lain.

“Dampak rasa benci itu membuat mereka tidak setuju anggota kelompok itu (nonmuslim) menjadi pejabat di Indonesia,” tutur Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid.

Istri Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini melanjutkan bahwa gerakan radikal dan kaum intoleran sudah menguasai pemikiran segelintir masyarakat Indonesia, bahkan sudah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Gerakan radikal dan intoleransi sudah masuk ke dalam kehidupan bernegara. Hanya berapa belas persen saja yang tidak setuju Indonesia menjadi negara Islam,” kata Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, dalam talkshow “Perempuan dan Kebinnekaan”, di Jakarta, Senin 10 April 2017.

Selain non muslim ditolak menjadi pejabat, Shinta melanjutkan, sebanyak 82 persen responden tidak setuju non-muslim menjadi tetangga mereka. “Kondisi ini sudah sampai di kehidupan bertetangga. Hanya sebagian kecil yang bersifat netral dan mau menghargai perbedaan,” tuturnya.

Shinta menilai semua kondisi ini merupakan potensi yang cukup mengkhawatirkan. Dari survei yang dilakukan pun, sedikitnya ada 11,5 juta orang yang berpotensi melakukan tindakan-tindakan radikal.

This is what I’m fighting for. Bukan soal bela Ahok, bela Jokowi. Tapi saya sedari kecil hidup damai dan aman di negara yang majemuk dan saya mau anak cucu saya juga masih bisa merasakan kedamaian dan keamanan yang lebih baik, jangan sampai seperti di beberapa negara di Timur Tengah yang berkecamuk perang karena isu agama. Amit amiit… 😦

Basuki-Djarot boleh kalah di Pilkada DKI Jakarta, tapi perjuangan mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila harus tak pernah berhenti. Karena kelompok politik yang memperjuangkan negara agama juga tak pernah berhenti.

Seperti lagu yang saya nyanyikan di awal menginjakkan kampus:

We’re fighting for our freedom we shall not be moved 2x

Just like the tree that’s standing by the water

We shall not be moved…!

(Erri Subakti)

Advertisements

2 thoughts on “Basuki-Djarot Boleh Kalah, ‘We Shall Not Be Moved’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s