Tjokro

Kongres CSI

Ketika itu, dalam sebuah sidang, hakim Belanda bertanya, “Apakah Tuan Tjokro tahu berhadapan dengan siapa?” Hakim itu menukas lagi, “Tuan sedang berhadapan dengan Ketua Pengadilan Tinggi Belanda.”

Tjokro menjawab tenang, “Tahukah Tuan sekarang duduk di hadapan siapa? Ketua Sentral Sarekat Islam seluruh Indonesia.”

Dengan sikap selalu berani menghadapi pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, wajar apabila Tjokroamonoto dijuluki “Raja tanpa mahkota” oleh Belanda.

Sebagai gambaran bagaimana rakyat Indonesia melihat Tjokroaminoto saat itu, yaitu ketika diadakan kongres Sarekat Islam di Situbondo, Jawa Timur.

Semula panitia membatasi hanya 7.000 orang pemegang kartu anggota organisasi yang boleh hadir. Namun menjelang rapat, 20 ribu orang memadati alun-alun yang menjadi tempat pertemuan.

Walaupun dilarang berjabat tangan dengan Tjokroaminoto, orang-orang tetap berdesakan. Mereka ingin melihat wajah sang pemimpin.

Ribuan orang merangsek ke depan agar bisa memegang dan mencium tangan, bahu, dan jas Tjokroaminoto. Sehingga Tjokroaminoto sulit bernapas dengan desakan para pendukungnya. Ia lalu melompat ke kursi, tapi pengikutnya malah memeluk kaki.

Mereka yang tak menjangkau Tjokroaminoto beralih memegang orang dekat di sekitarnya.

Kerumunan itu tak peduli meskipun orang dekat Tjokroaminoto berteriak bahwa mereka bukan pemimpin Sarekat Islam. “Tidak apalah, Anda kan patihnya,” jawab orang-orang itu.

(Dari buku Tjokroaminoto, Guru Para Pendiri Bangsa, Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s