Uraian Benang Ketiga keruwetan Kondisi Sosial Masyarakat Indonesia (Bag. 3)

hoax-splat-red

Untuk uraian kali ini merupakan sequence dari kedua uraian sebelumnya. (Mengurai Benang Keruwetan Sikon Masyarakat Indonesia) Sekaligus berkelindan dengan ruang lingkup di bidang komunikasi dan budaya masyarakat dalam menerima informasi.

Sebuah tema yang semakin mencuat dewasa ini yaitu, hoax.

Secara singkat definisi hoax adalah sebuah berita palsu yang sengaja dibuat dengan tujuan untuk menipu atau mempermainkan pembaca/audiens-nya. Hoax juga bisa merupakan salah satu jenis lelucon berlevel ‘pranks’. Hoax jenis lelucon ini biasanya di kemudian waktu diberitahukan bahwa berita palsu itu hanya sebuah lelucon.

Jenis hoax lainnya yang saat ini sangat massif penyebarannya adalah yang sengaja dibuat untuk maksud tertentu, yaitu memfitnah pihak yang dijadikan sasaran untuk dijatuhkan kredibilitasnya.

Sebelumnya saya akan memberikan perbandingan antara hoax dengan istilah lainnya.

Pertama adalah rumor. Rumor merupakan cerita mengenai peristiwa yang belum tentu kebenarannya. Bisa benar, tapi bisa tidak.

Kedua, gosip. Gosip merupakan cerita tentang seseorang yang belum tentu kebenarannya. Gosip bisa benar, bisa tidak.

Dari 2 istilah di atas, perbedaannya adalah kalau rumor merupakan cerita mengenai sebuah peristiwa. Sedangkan gosip adalah cerita mengenai seseorang. Persamaan dari kedua istilah tersebut adalah pada ‘belum tentu kebenarannya.’

Istilah ketiga yang beririsan dengan 2 istilah di atas adalah, fitnah. Fitnah merupakan cerita buruk tentang seseorang yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan kehormatan seseorang itu. Kalau fitnah sudah pasti tidak benar.

Contoh rumor, misalnya mengenai ‘petrus’ (penembak misterius) di era ’80-an yang merupakan salah satu operasi khusus satuan aparat di masa tersebut. Cerita mengenai hal ini meski sudah umum diketahui di masyarakat namun kebenaran atau kesahihan tentang operasi khusus ini masih belum bisa disebut kebenaran. Karena tidak ada sumber resmi yang mengungkap mengenai hal tersebut.

Rumor sekilas seperti hoax. Bedanya adalah rumor tumbuh dan berkembang dalam situasi masyarakat yang relatif tertutup. Ketertutupan informasi ini yang membuat rumor menjadi subur.

Sementara di era keterbukaan informasi atau ‘the end of secret era’, rumor sudah tidak tumbuh secara organik (dengan sendirinya). Sebuah informasi palsu kini dengan sengaja dibuat. Internet dengan kecepatannya malah menjadi inang yang subur bagi berita palsu untuk menyebar secara cepat dan massif.

Kalau dalam konteks situasi sosial politik 5 tahun ke belakang, hoax yang muncul di masyarakat biasanya adalah hoax seputar kuliner atau penganan. Berbagai macam informasi hoax mengenai makanan itu begini, makanan itu begitu, jajanan itu dibuat dari anu, biskuit ‘entu’ mudah terbakar, dsb. Namun seperti yang saya uraikan pada bagian pertama dan kedua, ada sebuah perubahan situasi sosial politik di masyarakat karena kemunculan tokoh bernama Jokowi dengan karakteristik kepemimpinan yang mampu mencuri hati rakyat Indonesia, yang sialnya bukan berasal dari sebuah kelompok ber’baju agama’ maka banjirlah media sosial dan portal berita yang tidak kredibel memproduksi banyak sekali berita-berita palsu dengan tujuan menjatuhkan kredibilitas Jokowi.

Kemasan berita palsu itu seringkali merupakan sebuah fitnah langsung mengenai Jokowi, misalnya fitnah bahwa Jokowi itu merupakan keturunan Tionghoa yang memiliki ayah bernama Oey Hong Liong.

Atau berita palsu yang dikemas oleh portal tanpa kredibilitas yang jelas mengangkat judul seperti ini: “Jokowi PKI?”

Dan masih banyak lagi hoax yang sasarannya adalah Presiden RI ke-7 ini. Jika ada yang bersedia mengumpulkan berapa banyak hoax dan fitnah terhadap Jokowi, saya yakin Jokowi layak mendapatkan Rekor MURI sebagai Tokoh Politik yang Paling Banyak Difitnah.

Berhubungan dengan uraian pertama saya dimana saya ungkapkan bagaimana PKS memainkan hasil dari ‘perebutan’ rumah ibadah sebagai sarana penyebaran propagandanya, berita-berita palsu itu pun terselip sedikit demi sedikit dalam isi ceramah, khutbah, bahkan tidak saja hanya diselipkan melainkan juga sudah terang-terangan menjadi dasar isi ceramah keagamaan di dalam masjid.

Fakta ini sudah tidak dapat dipungkiri sekarang dengan melihat begitu banyak masjid dan musholla yang isi ceramahnya membakar sentimen terhadap pemimpin yang tidak mereka sukai, Joko Widodo dan terlebih Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sungguh mengerikan ketika rumah ibadah dijadikan tempat penyebaran propaganda politik. Itu seperti membenturkan semangat beragama dengan damainya kehidupan bernegara saat ini. Padahal di antara keduanya, kehidupan beragama dan kehidupan berwarga negara, saat ini sama sekali tidak ada masalah. Namun hanya karena faktor psikologis yang dialami secara berjamaah maka apa yang bisa mereka kendalikan, akan mereka eksploitasi sebesar-besarnya, yaitu rumah ibadah.

-Bersambung ke “Mengapa Orang Percaya Hoax?”

_____

Artikel sebelumnya:

  1. https://www.selasar.com/jurnal/34633/Mengurai-Benang-Keruwetan-Situasi-dan-Kondisi-Sosial-Masyarakat-Indonesia
  2. https://www.selasar.com/jurnal/34634/Mengurai-Benang-Kedua-Tinjauan-Sosiologis-Kondisi-Masyarakat-Indonesia

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s